Penguatan Karakter Solusi Kekerasan dalam Pendidikan

0
12

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti mengungkapkan dua catatan penting terkait pendidikan Indonesia di tahun ini. Kedua hal ini adalah terkait kekerasan dalam pendidikan yang semakin masif dan mengerikan, serta berkurangnya sikap toleran dalam menerima keberagaman dan menurunnya nilai-nilai kebangsaan di sekolah.

Doni Koesoema, tokoh pendidikan yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas FSGI menuturkan nilai penting pendidikan karakter dalam sistem pendidikan Indonesia. “Pendidikan karakter harus menjadi poros dan roh dalam mengelola pendidikan nasional. Untuk itu, perlu komitmen dan konsistensi pemerintah melalui regulasi yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di kelas, pengembangan budaya sekolah sebagai komunitas moral pembelajar, dan membangun kolaborasi dengan masyarakat secara fair dan adil dalam peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui empat dimensi pengolahan hidup, olah rasa, olah pikir, olah hati, dan olah raga, harus dikembalikan dalam setiap kinerja pendidikan.

Asrul Raman yang juga merupakan pengurus SEGI Bima mengkritik pendidikan karakter yang selama ini diterapkan di sekolah. Menurutnya, pendidikan karakter di sekolah selama ini diberikan tanggungjawab kepada guru BP/BK. Ini menjadi problem dasarnya sehingga yang terjadi hanya penindakan saja tanpa dibarengi pencegahan.
“Pendidikan Karakter semestinya melibatkan cognitive, feeling dan action. Ketiga aspek tersebut harus saling menyelimuti satu sama lainnya. Dan tentu harus ada yang mengawalnya, yaitu aktor yang terlibat. Intinya, Pendidikan karakter itu harus di kawal oleh banyak pihak, baik yang didalam sekolah maupun yang di luar sekolah,” terangnya.

Sementara, Hari Prasetyo (Pengurus SEGI Jakarta), menyatakan kendala dan tantangan dalam implementasi pendidikan karakter dan kebhinekaan di lembaga pendidikan swasta terletak di tiga pilar yaitu dari sekolah, rumah dan lingkungan. Terutama di dalam sekolah, kualitas dan karakter yang baik dari guru memerlukan pelatihan dan penguatan untuk dijadikan role model peserta didik. Tentunya juga dilakukan perbaikan dalam manajemen sekolah.
Dari rumah pun, orang tua juga mendukung program sekolah untuk menjadi role model yang baik untuk anak-anaknya. “Untuk itu perlu sinergi kerjasama dengan sekolah melalui kegiatan Parenting,” tegasnya.

Anggota Dewan Pendidikan Itje Chodidjah, “Guru adalah panutan dan sudah diatur dalam UU Guru Dosen yang harus menguasai empat kompetensi dasar yang secara spesifik berhubungan dengan karakter, yaitu kompetensi kepribadian dan sosial. Kompetensi itulah yang jika dikembangkan secara tepat akan memberikan kontribusi besar pada penguatan karakter sebagai bagian dari revolusi mental.

“Pengembangan kedua kompetensi tersebut saat ini masih lemah dan diperlukan pola pelatihan yang tepat karena berkaitan dengan ketrampilan dan sikap bukan hanya pengetahuan,” katanya. (IK-SS)

Sumber : edupost.id

LEAVE A REPLY